Potret Kehidupan Anak Jalanan

Siang itu pemandangan di pertigaan Gellael tidak berbeda dengan hari-hari biasa. Pemandangan ketika lampu lalu lintas menyala merah. Pemandangan ketika anak-anak jalanan berhamburan menghampiri orang-orang yang terpaksa berhenti. Pemandangan ketika anak-anak menjulurkan tangan — sebagian sambil mengelus-elus perut, sebuah ungkapan yang menggantikan kalimat “aku lapar”. Pemandangan ketika seorang ibu ikut menjulurkan tangan kanannya, sementara tangan kiri menahan kain yang menutupi tubuh bayinya — sebuah ungkapan kasih naluriah seorang ibu yang sedang melindungi bayinya dari panas terik matahari.

Beberapa orang tidak mempedulikan anak-anak ini, tetapi ada juga pengendara motor yang merogoh kantong atau pengendara mobil yang merogoh tempat uang receh di pintu mobilnya. Uang yang memang sudah dipersiapkan untuk keperluan seperti ini, ataupun keperluan lain juga.

Begitu lampu hijau menyala, anak-anak ini menyingkir; ibu dengan bayinya juga ikut menyingkir. Sebagian naik ke jalur hijau, sebagian lagi kembali ke pinggir jalan, menunggu lampu merah menyala kembali. Para pengendara yang sudah memberi uang receh maupun yang tidak punya kepedulian juga melanjutkan perjalanannya.

Inilah pemandangan sehari-hari di persimpangan
Kisah Mereka tak ?Seindah? Kalian BAGI kita, remaja yang memiliki orang tua berkecukupan, tentu kehidupan ini bias dilalui dengan indah. Apalagi yang bisa mengecap ?nikmatnya? bangku sekolah. Selain bisa mendapatkan pendidikan sebagai bekal masa depan, kita juga bias merasakan romantika remaja di sekolahan. Kata sebagian orang sih, nantinya kenangan yang paling dikenang adalah masa-masa indah di sekolah. Namun bagaimana mereka yang tidak bisa mengenyam kehidupan yang menyenangkan seperti remaja lain? Padahal di sekeliling kita begitu banyak remaja yang orang tuanya tak mampu, bahkan tidak punya sama sekali. Seperti Sapri misalnya, seorang anak jalanan yang ditemui di dekat masjid Almarkaz Al Islami, belum lama ini. Yap, kehidupan cowok tangguh berusia 16 tahun ini adalah potret sisi lain kehidupan remaja masa kini yang benar-benar berbeda. Hari-hari Sapri lebih banyak dihabiskan di jalanan. Tak ada waktu untuk ikut meramaikan kegiatan remaja di anjungan Pantai Losari maupun tempat hiburan lainnya. Apalagi untuk shopping di toko-toko distro dan berburu pakaian model terbaru. Sapri juga tak melanjutkan sekolah sehabis tamat SD. Alasan ekonomi katanya. Karena itu, Sapri pun terjun ke dunia kerja. Waktunya tersita untuk bekerja dan mengumpulkan rupiah. Tak ada euforia berlebihan dan warna-warni kehidupan remaja masa kini di dirinya. Matanya nanar ketika menceritakan itu. Nah, adakah teman-teman remaja peduli akan kehidupan yang dilakoni Sapri? Ataukah remaja masa kini hanya sibuk dengan tren fashion dan hura-hura di party-party? ?Iya juga sih kalau dipikir-pikir. Ternyata ada juga anak muda di luar sana yang tidak seberuntung kita. Ketika kita sedang asyik bercanda ria dengan teman-teman di sekolah, mereka malah sibuk di jalanan mencari uang untuk sekadar makan,? komen Hamka, siswa kelas XII IPA-1 SMAN 17 Makassar, setelah berpikir sejenak. Maka menurut cowok yang tengah giat-giatnya belajar jelang ujian nasional ini, remaja yang lain harusnya lebih peduli. ?Bolehlah kita having fun, tapi jangan terlalu larut dong. Kalau perlu kita harus ikut memikirkan nasib teman-teman kita yang kurang beruntung itu. Yah, seperti mengadakan baksti sosial lewat OSIS misalnya,? katanya lagi. Komen senada datang dari Sidik. Menurut cowok manis dari SMAN 7 Makassar ini, sudah saatnya remaja mulai ikut berpikir mengenai kehidupan sosial. ?Karena kita ini masih berusia remaja, yah sepertinya kehidupan anak muda jalanan seperti itulah yang harus kita pikirkan. Cobalah membantu,? kata siswa kelas XI-2 ini. Namun Sidik tidak bisa merinci bentuk bantuan dan kepedulian yang bagaimana yang harus dilakukan untuk remaja seperti Sapri. Tapi maklumlah, kalau pun Sidik tahu, belum tentu dia mampu mewujudkannya. Nah kalau begitu, anak-anak jalanan seperti Sapri tanggung jawab siapa dong? Mereka tentu tidak bisa ?ditelantarkan? begitu saja. Yap, tampaknya harus ada yang turun tangan nih. (rek6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s